LulusinKuy Konsultasi
Metodologi

Metode Penelitian Kuantitatif vs Kualitatif: Cara Memilih yang Cocok untuk Judulmu

Tim Lulusin Kuy · · 3 menit baca

Ilustrasi perbandingan penelitian kuantitatif dan kualitatif
Daftar isi
  1. Bedanya dalam satu kalimat
  2. Lihat dari rumusan masalahmu
  3. Perbedaan yang paling terasa di lapangan
  4. Mitos yang perlu diluruskan
  5. Contoh: satu topik, dua arah
  6. Checklist sebelum memutuskan

Banyak mahasiswa memilih metode penelitian dengan cara yang terbalik: memilih dulu metodenya ("aku pakai kuantitatif aja, kayaknya lebih gampang"), baru kemudian mencocokkan judul. Akibatnya, di tengah jalan muncul masalah. Rumusan masalah tidak nyambung dengan alat analisis, dosen meminta revisi Bab 3, dan Bab 4 jadi terasa berat.

Padahal kuncinya sederhana: metode mengikuti pertanyaan penelitian, bukan sebaliknya. Artikel ini membantu kamu memilih dengan lebih yakin.

Bedanya dalam satu kalimat

  • Kuantitatif menjawab pertanyaan seberapa besar: seberapa besar pengaruh, hubungan, atau perbedaan antarvariabel. Datanya berupa angka, dan jawabannya didapat lewat uji statistik.
  • Kualitatif menjawab pertanyaan bagaimana dan mengapa: bagaimana suatu proses terjadi dan mengapa orang bertindak seperti itu. Datanya berupa kata-kata, cerita, dan pengamatan, lalu dianalisis untuk menemukan makna.
Diagram cara cepat menentukan pendekatan penelitian
Diagram cara cepat menentukan pendekatan penelitian

Lihat dari rumusan masalahmu

Coba baca lagi rumusan masalah yang sudah kamu tulis, lalu cocokkan dengan pola berikut.

Pola pertanyaanKecenderungan metode
"Apakah X berpengaruh terhadap Y?"Kuantitatif (regresi, SEM-PLS)
"Apakah ada perbedaan A dan B?"Kuantitatif (uji beda)
"Bagaimana strategi … dalam …?"Kualitatif (studi kasus)
"Bagaimana pengalaman … ketika …?"Kualitatif (fenomenologi)
"Seberapa besar pengaruhnya, dan mengapa bisa begitu?"Mixed method

Kalau rumusan masalahmu memakai kata pengaruh, hubungan, perbedaan, atau efektivitas, hampir pasti kamu berada di jalur kuantitatif.

Perbedaan yang paling terasa di lapangan

1. Cara mengambil data. Penelitian kuantitatif biasanya memakai kuesioner skala Likert, data sekunder (misalnya laporan keuangan), atau hasil tes. Penelitian kualitatif memakai wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi.

2. Jumlah sampel. Kuantitatif butuh sampel yang cukup supaya uji statistiknya layak, misalnya dihitung dengan rumus Slovin atau ketentuan minimal model. Kualitatif tidak mengejar jumlah, tetapi kedalaman: beberapa informan kunci yang benar-benar paham sudah bisa cukup.

3. Isi Bab 4. Di kuantitatif, Bab 4 berisi uji instrumen, uji asumsi, uji hipotesis, lalu pembahasan. Di kualitatif, Bab 4 berisi temuan tematik yang didukung kutipan informan, lalu dikaitkan dengan teori.

4. Pertanyaan saat sidang. Penguji kuantitatif sering bertanya "kenapa pakai uji ini?" dan "apa arti angka ini?". Penguji kualitatif sering bertanya "bagaimana kamu menjaga keabsahan data?" dan "kenapa memilih informan ini?".

Mitos yang perlu diluruskan

"Kuantitatif lebih gampang karena tinggal olah angka." Tidak selalu. Kalau datanya tidak normal, asumsinya tidak terpenuhi, atau hipotesisnya tidak signifikan, kamu tetap harus bisa menjelaskannya dengan kalimat sendiri.

"Kualitatif tidak perlu teori." Justru teori dipakai untuk membaca temuan. Tanpa teori, Bab 4 kualitatif hanya menjadi kumpulan cerita.

"Mixed method pasti lebih bagus." Mixed method memakan waktu dua kali lipat. Pilih hanya kalau pertanyaan penelitianmu memang membutuhkan dua jenis jawaban.

Contoh: satu topik, dua arah

Ambil topik minat belanja di marketplace.

  • Arah kuantitatif: "Pengaruh Harga dan Ulasan Online terhadap Keputusan Pembelian di Shopee pada Mahasiswa Semarang." Datanya dari kuesioner, dianalisis dengan regresi linear berganda.
  • Arah kualitatif: "Pengalaman Mahasiswa dalam Mengambil Keputusan Pembelian Impulsif di Marketplace." Datanya dari wawancara mendalam, dianalisis secara tematik.

Topiknya sama, tetapi pertanyaan, data, dan Bab 4-nya berbeda total.

Checklist sebelum memutuskan

  1. Rumusan masalahmu bertanya seberapa besar atau bagaimana/mengapa?
  2. Datanya realistis didapat? (responden cukup, atau ada informan yang mau diwawancarai)
  3. Kamu atau pendampingmu nyaman dengan alat analisisnya (SPSS, SmartPLS, EViews, atau analisis tematik)?
  4. Waktu sampai target sidang cukup?

Kalau keempatnya terjawab, metodemu sudah punya dasar yang kuat untuk dipertahankan di depan dosen.

Masih ragu judulmu cocok ke arah mana? Kamu bisa mencoba Roadmap Bab 4 gratis di website ini, atau langsung ngobrol dengan tim kami lewat WhatsApp.

Baca juga